POINUPDATE.COM, JAKARTA – Memasuki bulan kedua di tahun 2026, wajah pendidikan Indonesia mengalami transformasi besar-besaran. Tidak hanya sekadar perbaikan infrastruktur fisik, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai mengakselerasi program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang terintegrasi dengan digitalisasi pembelajaran secara masif.
Langkah ini diambil menyusul diterbitkannya Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang menjadi payung hukum baru dalam menciptakan ekosistem sekolah yang bebas dari kekerasan, inklusif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal.
Revitalisasi 71.000 Sekolah dan Lompatan Digital
Pemerintah menargetkan revitalisasi lebih dari 71.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia sepanjang tahun ini. Fokus utama bukan hanya pada estetika bangunan, melainkan pada aspek keamanan (mitigasi bencana) dan pemenuhan standar fasilitas digital.
Hingga Februari 2026, pemasangan papan interaktif digital (Interactive Flat Panel) telah menjangkau ratusan ribu ruang kelas dari Sabang sampai Merauke. Presiden Prabowo Subianto dalam arahannya menegaskan bahwa digitalisasi adalah “jembatan emas” untuk mengatasi ketimpangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah terpencil.
“Pendidikan adalah kunci kebangkitan bangsa. Melalui digitalisasi, kita ingin memastikan anak di pelosok Papua mendapatkan akses materi yang sama kualitasnya dengan anak di Jakarta,” ujar Presiden dalam tinjauan infrastruktur pendidikan baru-baru ini.
Menjaga Budaya di Tengah Disrupsi AI
Meskipun teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mulai digunakan untuk membantu pembelajaran personal bagi siswa, pemerintah tetap menekankan pentingnya aspek Pendidikan Karakter.
Melalui program “Budaya Sekolah”, setiap satuan pendidikan didorong untuk menghidupkan kembali literasi budaya lokal melalui kurikulum yang fleksibel. Sekolah-sekolah kini memiliki ruang lebih luas untuk mengintegrasikan seni tradisional, bahasa daerah, dan etika budi pekerti ke dalam kegiatan harian.
“Teknologi hanyalah alat, namun karakter adalah ruh dari pendidikan itu sendiri,” ungkap seorang pengamat pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Menurutnya, tantangan utama di tahun 2026 adalah bagaimana guru berperan sebagai penjaga nilai moral di tengah arus informasi digital yang tak terbendung.
Inklusi dan Pemerataan Guru
Isu lain yang menjadi sorotan dalam kategori Pendidikan & Budaya awal tahun ini adalah kebijakan redistribusi guru ASN ke daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerataan mutu pendidikan yang selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.
Dengan sekolah yang lebih aman, fasilitas yang modern, dan guru yang kompeten, Indonesia optimis dapat memperbaiki skor literasi dan numerasi nasional dalam penilaian internasional mendatang. Pendidikan 2026 bukan lagi soal persaingan nilai akademik semata, melainkan tentang membangun manusia Indonesia yang cerdas secara digital namun tetap rendah hati secara budaya.
Editor: Tim Redaksi PoinUpdate
Sumber: Kemendikdasmen, Kemenko PMK